Sabtu, 24 April 2010

catatan pagi di suatu kelas

Catatan Pagi Di Suatu Kelas

Pagi itu Bu Guru dalam salah satu sesi mengajarnya memperkenalkan bahasa Indonesia dengan tema "TA TI TU TE TO".
Bu Guru duduk di depan whiteboard dengan seluruh anak didiknya duduk lesehan membentuk setengah lingkaran mengelilingi beliau di depannya. Beliau mendiktekan suku kata yang ditulisnya di whiteboard dengan mengulang beberapa kali agar anak-anak dapat segera menghapalnya. Selanjutnya sesi pertanyaan, "Siapa yang tahu kata yang mengandung bunyi TA??" Bu guru bertanya."Saya... saya... saya...." berebutan beberapa anak di kelas mengacungkan tangan untuk memperoleh kesempatan pertama menjawab, sementara beberapa yang lain mengkerutkan badannya di belakang temen-temennya yang exciting mengacungkan tangan...."Hayo Dara apa ?" "Tali" "Bagus, selanjutnya siapa ?" Dizon, Dadi, Rada dan seterusnya, mereka bergantian, timbul tenggelam, bersahut-sahutan berusaha menjawab pertanyaan bu Guru. Mereka, murid-murid yang aktif, berebutan menunjukkan penemuan kata mereka, sementara dibelakang mereka kulihat beberapa sosok murid berusaha mengerdilkan badannya agar luput dari pandangan ibu gurunya. Sampai tiba waktunya bu guru memanggil nama mereka, saat teman-teman mereka sudah memperoleh giliran dan penuh rasa bangga dengan penemuan kata masing-masing. Di tengah desakan gurunya untuk memperoleh kata baru dengan pilihan kosakata yang makin susah karena sudah ditemukan sebelumnya oleh teman-temannya, yang bisa mereka lakukan hanya diam. Salah satu dari mereka, Duke, laki-laki, berusaha menjawab namun apa daya ternyata sia-sia. Kata "Bangku" sama sekali tidak mengandung suku kata "Ta" yang diminta Bu Guru. Segera sang teman bereaksi memojokkan "Wah Duke itu kan tidak ada suku kata"TA"-nya". Segera wajah yang sebelumnya berseri karena bisa menyumbang kata langsung berubah muram, bahkan lebih muram dari yang sebelumnya.Tidak menemukan jawaban yang memuaskan dari anak-anak ini, sang Bu Guru langsung menghadiahkan tulisan nama mereka masing-masing dilengkapi dengan emoticon muka sedih di whiteboard. Jangan... jangan.... tuliskan nama-nama itu apalagi dengan gambar sedih itu. Ya Allah Gusti, kenapa jadi begini....Hatikuperiiiiih dan tidak rela mereka memperoleh perlakuan seperti itu. Drama menyedihkan itu kembali lagi berulang untuk penemuan kata dengan sukukata "TI". Kembali anak-anak pendiam itu memperoleh hadiah wajah sedih digambar di whiteboard lengkap dengan nama mereka tertulis disebelahnya.. .Astagfirullah. .. mengapa.... mengapa itu harus terulang lagi, belum cukupkah yang pertama tadi. MENGAPA ? Bertambah besar pertanyaan "mengapa" di benak aku ketika kembali bu guru menegaskan bahwa anak-anak berikut hanya mengkoleksi wajah sedih di kelas hari ini, sambil menunjuk siapa-siapa yang tertulis di whiteboard....Duhhh....mengapa hal itu masih harus diulang dan ditegaskan lagi. Belum cukupkah drama dua babak pada pembelajaran suku kata "TA" dan "TI" bagimereka. Satu hari terlewati, hari baru yang kuharap membawa harapan baru, ternyata, "wajah sedih" kembali bagi anak-anak kami. Betapa ingin aku merengkuh anak-anak itu semua dalam pelukan hangatku. Betapa ingin kubisikin atau bahkan kalau perlu kuteriakkan bahwa kalian pasti BISA, belajar itu mudah, kalian adalah anak-anak istimewa dan berhakuntuk memiliki wajah ceria seperti temen-temen kalian. Meleleh hati ini bersama kalian. Kalian berhak untuk dapat yang jauh lebih baik dari apa yang kalian terima saat ini. Aku sampaikan kepadamu bu guru, tolong perhatikan anak-anak pendiam ini. Akuingin melihat mereka dapat mengeksplorasi diri mereka dan belajar tentang segala sesuatu di dunia itu tanpa batasan minder, kurang percaya diri dll. Mereka pasti bisa melakukan yang kalian pinta. Hal yang mereka butuhkan adalah sedikit perhatian, bantuan, kepercayaan dan kesempatan pertama. Mereka jauh lebih baik daripada yang pernah kalian bayangkan. Mereka adalahanak-anak kita semua, jangan biarkan mereka layu sebelum berkembang. Berilah mereka :
1. Kepercayaan untuk memperoleh kesempatan pertama
2. Kepercayaan bahwa mereka pasti bisa.
3. Soal yang mudah dijawab.
4. Stimulasi positif, kata-kata pujian, dukungan, dorongan dan motivasi.
5. Hindari simbol-simbol ataupun bahasa tubuh negatif di depan kelas terkait dengan ketidakmampuan anak murid.
6. Belajar sambil bermain, misal: berlomba menemukan flashcard yang mengandung suku kata sesuai topik dll.
7. Minat dan bakat anak murid untuk digunakan sebagai jembatan penyampaian materi pelajaran.
8. Kata-kata hiburan.
9. Perhatian, dekapan dan ungkapan kasih sayang.
10. Ide kreatif lainnya.
Aku berharap banyak darimu bu guru karena engkaulah yang ada di depan whiteboard bersama anak-anak kita, bukan aku, bukan kepala sekolah, bukan ustadz dan bukan yang lain. Mari kita bersama-sama belajar untuk menjadi yang lebih baik bagi anak-anak kita. Mereka terlalu berharga untuk kita abaikan. Untuk mereka kita ada

(dr www.sekolahrumah@yahoogroups.com)

0 komentar dong: