Minggu, 05 September 2010

EMAK

Emakku sering menyuruhku mencabut uban-uban miliknya. Minggu yang lalu, sambil berbaring disampingku, mak menyuruh aku mencabut uban-ubannya dan mengurut dahinya. Ku urut dahinya perlahan sambil memperhatikan uban putihnya yang semakin banyak. Ku lihat garis-garis kerutan pada wajah emakku juga kian kentara.
Aku memulakan bicara. Mak, ujarku. Rambut putih mak ini makin banyak, kalau mak minta dicabut nanti hilang pula rambut mak semua.. Mak habislah rambut mak itu, cakapku nakal.
Tak mau ah, mak membalas. Mak lebih suka begini. Cakap mak ku lagi.
Mak ku berkata lagi, mak sudah tua. Bila mak sudah uzur nanti, mak tak mau susahkan anak-anak mak. Hantarkan saja mak ke rumah panti jompo. Mak tak mau jadi beban pada sesiapa.
Apa mak cakap ini, aku membantah.
Insya Allah, kami kakak beradik akan jaga mak dan ayah. Mak jangan fikir bukan-bukan ya mak, ujarku sayu.
Wanita ini lah ibu, ratu hatiku. Wanita yang nampak lemah pada luarannya, tatapi gagah dalamannya. Keteguhan hatinya menjadikan dia wanita teristimewa. Baginya, biar dia berlapar, tapi tak pernah dibiarkan anak-anaknya kelaparan.
Masih kuingat, ketika emak ku kecelakaan jalan raya beberapa tahun lepas, tangannya patah dimasuki besi, matanya pula terkena serpihan kaca. Berminggu-minggu emak ku berada di rumah sakit.
Selang beberapa minggu emak di keluarkan dari rumah sakit, ayahku pula pensiun. Demi mencari sesuap nasi untuk anak-anaknya ketika itu yang masih banyak bersekolah, emak membantu ayah di kedai makan milik keluarga kami.
Bayangkan, parang pemotong ayam itu, emakku gunakan sehari berpuluh kali. Hampir 1 kg mungkin beratnya. Hinggakan ku lihat tangan emak menggigil ketika memotong. Sesekali peluh di dahi mak mengalir membasahi dahinya. Mungkin karena sakit tangannya yang patah itu belum pulih . Demi anak-anak, emak lupakan kesakitannya. Aku tahu, tiap malam tidur emak ku tidak lena menahan sakit.
Aku mempunyai rekan yang ibunya telah tiada, dia sering berkata padaku, sekiranya diberi masa sehari lagi bersama ibunya, cukup baginya karena dia terlalu rindukan ibunya. Dia teringin memeluk ibunya kembali. Dia teringin baring di pangkuan ibunya seperti dulu.. Namung dia sadar, permintaannya itu tidak mungkin tercapai. Dia menyesal karena selalu mengeluh setiap kali ibunya minta diurut, dia menyesal karena selalu membantah ketika ibunya masih ada.

(di ambil dari tulisan di dalam majalah kecil mungil isinya padat penuh makna "Mutiara Amaly, penyejuk jiwa penyubur iman" volume 74... Kisah ini mengingatkan aku pada ibuku, yang tidak beda jauh dari "emak", sungguh luar biasa perjuangannya, ingin seperti beliau... Ibu, I Love You Much)

1 komentar dong:

Kontraktor mengatakan...

bener tuh..cma anak doank yg bisa bkin hati kita..